Ngatiyana Dorong Dialog Budaya Jadi Pemantik Kebangkitan Identitas Cimahi

 

CIMAHI -MEDIA CERMAT- Wali Kota Cimahi Ngatiyana menekankan pentingnya kebudayaan sebagai bagian dari pembangunan masa depan daerah. Hal itu disampaikannya saat membuka Dialog Budaya Kota Cimahi Tahun 2026, Jumat (11/9/2026), yang diikuti sekitar 100 tokoh dan pelaku kebudayaan.

Menurut Ngatiyana, Cimahi merupakan daerah dengan masyarakat yang heterogen. Namun di tengah keberagaman tersebut tersimpan potensi budaya yang besar dan perlu terus dirawat melalui ruang dialog, pertukaran gagasan serta kolaborasi berbagai pihak.

Ia menilai Dialog Budaya tidak seharusnya berhenti sebagai agenda seremonial. Forum tersebut harus mampu melahirkan pemikiran dan langkah nyata untuk memperkuat kebudayaan sekaligus menjaga identitas masyarakat Cimahi di tengah perkembangan zaman.

Ngatiyana juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan panitia yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan. Penghargaan turut disampaikannya kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat serta DPRD Provinsi Jawa Barat atas dukungan dan sinergi dalam pemajuan kebudayaan.

Pelaksanaan Dialog Budaya tahun ini memiliki makna tersendiri karena bertepatan dengan momentum Hari Aksara Internasional 2026. Ngatiyana berharap momentum tersebut dapat mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya literasi budaya, termasuk keberadaan aksara dan bahasa daerah.

Ia secara khusus meminta perhatian terhadap generasi muda. Perubahan zaman dan modernisasi, menurutnya, jangan sampai membuat anak-anak muda Cimahi semakin jauh dari akar budaya dan identitas daerahnya.

“Di tengah derasnya arus modernisasi, keberadaan aksara, bahasa, serta tradisi seni daerah menjadi penanda identitas yang tidak boleh pudar,” pesan Ngatiyana.

Dalam kesempatan tersebut, Ngatiyana juga memberikan ucapan selamat kepada jajaran Dewan Kebudayaan Kota Cimahi periode 2026-2030 yang baru dikukuhkan. Ia berharap kepengurusan baru dapat menjalankan peran secara maksimal dalam memperjuangkan aspirasi para pelaku kebudayaan.

Dewan Kebudayaan, lanjut Ngatiyana, merupakan mitra strategis pemerintah daerah. Karena itu, sinergi perlu dibangun secara luas, bukan hanya dengan Pemkot Cimahi, tetapi juga Pemerintah Provinsi Jawa Barat, akademisi, komunitas budaya dan masyarakat.

Ngatiyana menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan kota tidak cukup hanya diukur melalui pembangunan fisik. Kemajuan daerah juga sangat dipengaruhi oleh kekuatan spiritual, kreativitas masyarakat serta kemampuan dalam menjaga dan mengembangkan ekspresi budaya.

Semangat tersebut kemudian dituangkan melalui slogan Dialog Budaya 2026, yakni “Kreatif Warga-na, Mantap Karya-na, Maju Kota-na, Hepi Budayawan-na.”

Ngatiyana menjelaskan, “Kreatif Warga-na” menggambarkan daya cipta dan inovasi masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal. Sementara “Mantap Karya-na” menjadi dorongan agar karya seni, bahasa dan kebudayaan yang lahir dari masyarakat memiliki kualitas serta mampu bersaing.

Adapun “Maju Kota-na” menggambarkan harapan agar penguatan kebudayaan ikut menjadi penggerak kemajuan Kota Cimahi. Sedangkan “Hepi Budayawan-na” menegaskan perhatian terhadap kesejahteraan, kebahagiaan dan penghargaan kepada para seniman serta budayawan.

Wali Kota Cimahi kemudian mengajak pemerintah, akademisi, komunitas dan seluruh pelaku seni untuk menjadikan Dialog Budaya sebagai ruang membangun kerja bersama. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar kebudayaan tidak hanya dipertahankan, tetapi juga terus berkembang mengikuti dinamika masyarakat.

Bagi Ngatiyana, menjaga kebudayaan bukan berarti hanya mempertahankan warisan masa lalu. Lebih dari itu, kebudayaan harus menjadi kekuatan untuk membentuk masa depan Cimahi sekaligus memastikan generasi mendatang tetap mengenal dan bangga terhadap jati dirinya. (Mega)

Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Posting Komentar