Disbudparpora Cimahi: Cireundeu Jadi Ikon Edukasi Budaya dan Ketahanan Pangan, Rasi Sudah WBTB
CIMAHI -MEDIA CERMAT- Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kota Cimahi, Dani Bastian, menegaskan pemerintah daerah terus berkomitmen menjaga, merawat, dan mengembangkan keistimewaan Kampung Adat Cireundeu.
Menurut Dani, kampung adat ini diarahkan menjadi ikon edukasi budaya sekaligus ketahanan pangan bagi masyarakat luas. Komitmen itu disampaikan saat ia mewakili Wali Kota Cimahi menghadiri syukuran adat Tutup Taun 1959 dan Ngemban Taun 1 Sura 1960 Saka Sunda di Kampung Adat Cireundeu.
"Perayaan tahunan ini dihadiri oleh tokoh adat dari berbagai wilayah seperti Banten, Kuningan, hingga Cibuluh, serta mendapat dukungan langsung dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia," kata Dani saat ditemui, Sabtu, 11 Juli 2026.
Dani menyebut salah satu nilai utama yang dipertahankan Cireundeu dan kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda adalah rasi atau beras singkong. Penetapan itu menjadi bukti pengakuan negara terhadap kearifan pangan lokal.
"Ia menambahkan, Kota Cimahi saat ini mencatat tiga daftar WBTB dan 12 Cagar Budaya. Rasi menjadi salah satu kebanggaan yang juga mendapat perhatian Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha Djumaryo, dalam sambutannya secara virtual.
Keistimewaan Cireundeu bukan hanya pada tradisi rutinnya, melainkan pada kearifan pangan yang terbukti mandiri dan sehat. Itulah mengapa rasi resmi masuk daftar WBTB," ungkap Dani.
"Ke depan, Disbudparpora menargetkan menjadikan Kampung Adat Cireundeu sebagai percontohan utama pengembangan Kampung Sosial Berbasis Ketahanan Pangan. Konsep itu akan diorientasikan pada pariwisata edukatif," kata Dani.
Dani menerangkan, kawasan ini juga kini sering dijadikan lokasi kajian dan penelitian oleh berbagai kalangan akademisi. Mereka mempelajari keseimbangan antara pelestarian budaya dan kehidupan modern di Cireundeu.
“Pemerintah akan terus mendukung agar Cireundeu tidak hanya lestari sebagai kampung adat, tapi juga memberi manfaat nyata bagi ketahanan pangan dan pendidikan budaya,” tutup Dani. (Mega)



Posting Komentar